Kamis, 13 Maret 2008

Berantas Judi Tawarkan Investasi

SELAMA ini orang lebih mengenal nasi Padang ketimbang Kota Padang. Kalaupun sempat ke Kota Padang, itu pun, menurut sejumlah wisatawan Nusantara dan mancanegara, karena kebetulan Bandar Udara Tabing dan Pelabuhan Telukbayur berada di wilayah kota yang menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Barat ini. Tujuan mereka sebenarnya mungkin Kota Wisata Bukittinggi atau Kota Serambi Mekkah Padang Panjang, atau Kepulauan Mentawai untuk berselancar dan melihat kekayaan khazanah seni budaya Suku Mentawai.

KENYATAAN seperti itu bisa dimaklumi, tapi itu kondisi sampai tahun 2003. Gebrakan dari Kota Padang, 10 tahun terakhir hingga tahun 2003, nyaris tak ada. Pada dasawarsa itu orang tahu Kota Padang, ketika mencuat sejumlah kasus, seperti kasus balita gizi buruk, kasus wali kota-ketika itu Zuiyen Rais-terlibat tindak pidana penyalahgunaan uang negara, ia kemudian dinon-aktifkan, jadi terpidana, dan kemudian dinyatakan bebas oleh Mahkamah Agung.

Untuk bidang pendidikan, kebijakan Pemerintah Kota Padang membuat sejumlah kebijakan seperti selama Ramadhan sekolah libur, tapi semua pelajar, mulai dari SD sampai SMK/SMU harus ikut pendidikan pesantren. Sebelum pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan soal buku-buku pelajaran yang berlaku lima tahun, Wali Kota Padang Fauzi Bahar sudah mendahuluinya, dengan sekaligus menganggarkan buku pelajaran dalam APBD sehingga anak-anak nanti dapat buku gratis yang bisa digunakan turun-temurun selama lima tahun.

Pasca-Ramadhan sampai sekarang, Pemerintah Kota Padang lagi gencar-gencarnya membasmi judi, sekaligus kampanye antijudi dan antinarkotika. Program ini mendapat dukungan luas, sampai-sampai masyarakat berinisiatif menggelar kebulatan tekad yang dihadiri lebih dari 5.000 warga di Lapangan Imam Bonjol.

"Pemerintah Kota Padang sangat serius memberantas judi dan segala macam bentuk penyakit masyarakat. Karena itu, mulai tahun anggaran 2005, dalam APBD Kota Padang akan dianggarkan dana Rp 1 miliar untuk berantas judi," kata Fauzi Bahar.

Wali Kota Fauzi Bahar mengajak masyarakat untuk bersama-sama memberantas judi hingga ke akar-akarnya.

MENYADARI Kota Padang memiliki banyak potensi, kini Pemerintah Kota Padang gencar mencari investasi. Posisi Kota Padang sebagai ibu kota Provinsi Sumbar, pintu gerbang Indonesia untuk wilayah barat-karena memiliki Pelabuhan Telukbayur, yang satu-satunya di wilayah barat-dan dilengkapi sarana dan prasarana pendukung yang memadai, sebenarnya prospektifnya relatif lebih bagus dibandingkan dengan daerah lain di Sumbar.

"Investasi kami galakkan. Selain potensinya tersedia, pada gilirannya juga akan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menghasilkan output, berarti juga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," ujar Fauzi Bahar, yang ketika itu didampingi, Asisten II Indra Catri.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang dicapai Kota Padang tidak dapat dipisahkan dengan peningkatan investasi yang ditanamkan. Dalam perencanaan pembangunan, target pertumbuhan ekonomi telah ditentukan sebelumnya. Untuk mencapai target tersebut, sangat diperlukan investasi yang membutuhkan ketersediaan dana pembangunan, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun luar negeri.

Peningkatan investasi, yang diharapkan dalam menentukan target pertumbuhan perekonomian, tidak terlepas dari potensi dan peluang investasi yang dimiliki oleh Kota Padang. Bila dilihat dari sumber daya yang dimiliki, Kota Padang memiliki ketersediaan yang cukup lengkap dan memadai.

Di antara peluang investasi yang dimiliki adalah sektor pertanian subsektor perikanan laut, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor-sektor lain pendukung pariwisata.

Fauzi Bahar menjelaskan, sejak lima tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Kota Padang menunjukkan tren yang positif, tetapi pergerakannya masih terlihat lambat. Tahun 2003, pertumbuhan ekonomi Kota Padang meningkat sebesar 4,98 persen, hal ini lebih baik daripada pertumbuhan ekonomi Sumbar maupun Indonesia, yang masing-masingnyua 4,48 persen dan 4,10 persen. Tahun 2004, diyakini pertumbuhan ekonomi Kota Padang mencapai 5,5 persen sampai 6 persen.

"Pertumbuhan ekonomi akan meningkat kalau investasi yang ditanamkan meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Kota Padang memiliki potensi investasi yang relatif lengkap untuk dikembangkan. Karena, Kota berpenduduk 765.450 (pendataan tahun 2003) ini memiliki sumber daya alam yang beragam dan sumber daya manusia yang menunjang," papar Indra Catri.

Kota Padang merupakan pusat pemerintahan sehingga selalu ramai untuk dikunjungi, baik untuk keperluan pemerintahan maupun untuk kepentingan usaha. Kota ini memiliki fasilitas Bandara Tabing dan Pelabuhan Telukbayur, yang merupakan pintu masuk barang maupun orang ke Sumbar yang berasal dari luar daerah maupun luar negeri, juga menjadi pintu keluar bagi barang-barang hasil produksi Sumbar ke luar daerah maupun ke mancanegara. Hal ini sangat mendukung untuk dikembangkan investasi untuk sektor angkutan dan perdagangan.

Posisi Kota Padang, yang terletak di pantai barat Sumatera yang berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia dan memiliki garis pantai sepanjang lebih kurang 63,13 km, juga merupakan potensi yang besar untuk mengembangkan sektor perikanan laut dan industri pendukungnya, serta berpotensi untuk sektor wisata pantai bahari.

Gambaran lain investasi yang bisa ditanamkan di kota seluas 694,96 persegi ini adalah, sebagaimana dipaparkan Fauzi Bahar dan Indra Catri, untuk sektor industri sangat beragam. Industri pengolahan ikan, misalnya, didukung potensi perikanan yang cukup memadai, baik perikanan darat maupun laut.

Pada tahun 2003 produksi perikanan laut Kota Padang sebesar 13.737,40 ton yang terdiri dari berbagai jenis ikan dengan jenis terbanyak cakalang, karang, dan tuna. Sarana dan prasarana pendukung yang dimiliki antara lain sebanyak 354 perahu tanpa motor, 427 perahu motor tempel, dan 518 kapal motor.

Industri karet juga punya peluang besar. Saat ini produksi industri karet baru mencapai 12.000 ton, sementara potensi hasil perkebunan karet yang berada di kabupaten sekitar Padang mencapai 145.230 ton untuk perkebunan rakyat dan 6.591 ton untuk perkebunan swasta. Dengan demikian, masih banyak potensi investasi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan hasil industri karet.

Lalu, industri pengolahan minyak sawit mentah (CPO), yang sangat ditunjang oleh produksi kelapa sawit yang ada di daerah Sumbar. Tahun 2003 produksinya 402.760 ton untuk perkebunan rakyat dan 969.383 ton untuk perkebunan swasta. Sebagian dari produksi kelapa sawit tersebut telah diolah dalam bentuk CPO yang pabriknya berada di masing-masing daerah sentra produksi sehingga Kota Padang memiliki bahan baku yang melimpah bila dilakukan investasi dalam industri ini.

Di sektor perdagangan tersedia banyak pasar (17) dan pusat pertokoan dengan kios sebanyak 2.987 unit, serta tiga buah pusat perbelanjaan modern. "Kini sedang dibangun sebuah plaza, di areal bekas Terminal Lintas Andalas di Jalan Pemuda, Padang," ujar Fauzi Bahar.

Kemudian juga banyak peluang investasi di sektor perhotelan dan restoran. Kedua sektor ini ditunjang keberagaman obyek wisata di Kota Padang, seperti wisata kota tua, 21 obyek wisata alam, 10 obyek wisata sejarah dan kepurbakalaan, serta tujuh pulau untuk wisata bahari.

"Pemerintah Kota Padang akan memberikan kemudahan dan menyediakan sarana dan prasarana pendukung. Jangan ragu untuk berinvestasi di Kota Padang," tandas Wali Kota Fauzi Bahar

FAUZI BAHAR KETUA ILUNI UNP

Fauzi Bahar terpilih sebagai ketua Ikatan Alumni (Iluni) UNP untuk periode 2007-2011 menggantikan Marlis. Minggu malam di Pangeran Beach Hotel. Ketua terpilih Fauzi Bahar langsung dilantik Rektor UNP Z Mawardi Effendi. Fauzi, alumni UNP (IKIP Padang) dari Fakultas Ilmu Keolahragaan itu,terpilih setelah melalui proses pemilihan yang menegangkan. Awal pelaksanaan proses pada sidang pemilihan ketua yang dihadiri sekitar 500 peserta, yang terdiri dari 40 DPD itu, terjaring enam calon Ketua, yaitu Fauzi Bahar (Walikota Padang), Drs. Ganefri, MT (Dosen UNP) Mulyatsyah,MM (Diknas Provinsi), Marlis,MM (Pengusaha/Ketua Iluni Demisioner) Zulheman, MM (DPRD Kota Padang), Adirosal,MSi (Wawako Padang Panjang) dan M.Nurnas.MM (Pengusaha).

Menjelang pemungutan suara dilakukan, pimpinan sidang, H AM Dt Garang, sesuai Tatib pemilihan meminta ketegasan kesediaan nama-nama yang telah dicalonkan, apakah bersedia dicalonkan atau tidak. Pada saat itu, Drs Ganefri MT, dosen UNP, berdiri dan langsung mengajukan pengunduran dirinya. Hal yang sama dilakukan oleh Drs Marlis, MM, secara tak terduga Drs Adirozal MSi, alumni UNP dari Fakultas Bahasa dan Seni pun mengikuti jejak calon lainnya. Akhirnya, tinggal empat nama, yang maju pada putaran pemilihan yang mempergunakan sistem one man one put (pilihan langsung, satu orang satu suara), yaitu Fauzi Bahar, Mulyatsyah, Zulherman dan M Nurnas. Sesuai Tatib, ke empat calon, sebelum pemungutan suara, diminta menyampaikan visi dan misi.

Pada tampilan pertama, sesuai dengan nomor urut maju Fauzi Bahar menyampaikan Visi dan Misi. Berikutnya tampil Mulyatsyah, sebelum mengakhir pidatonya Kepala TU Diknas Provinsi Sumbar itu, menyampaikan pengunduran dirinya, dan Ia menuju kursi Fauzi Bahar dan saling berpelukan. Tinggal Zulherman, setelah berpidato dan menyampaikan program kerjanya kalau terpilih, Ia pun langsung menyatakan mundur dan memberi jalan kepada Fauzi Bahar untuk maju. Tinggal lagi M Nurnas yang menyampaikan visi misi. Setelah M Nurnas selesai membacakan visi dan misinya, namun menjelang turun podium Ia pun menyampaikan pengunduran dirinya. “Kita tompangkan harapan besar kita kepada Saudara kita Fauzi Bahar,” kata M Nurnas.

Mengingat tinggal satu calon lagi pimpinan sidang mengusulkan Ketua dipilih secara Aklamasi, dan ini disetujui semua peserta. Dan akhirnya Drs H AM Dt Garang, mengetuk palu mensahkan Fauzi Bahar telah terpilih menjadi Ketua Iluni UNP masa bakti 2007-2011.Berikut susunan lengkap pengurus inti Iluni UNP periode 2007-2011 Penasehat H Gamawan Fauzi, SH MM (Gubernur Sumbar alumni MM UNP), Pembina, Prof Dr Z Mawardi Effendi (Rektor UNP), Ketua Drs Fauzi Bahar MSi, Sekretaris, Drs Ganefri MT. Bendahara, Suryadi Azmi SE MM (Bank Nagari Sumbar). Pengurus terbentuk langsung dikukuhkan dalam suasana yang sangat kompak dan penuh kekeluargaan.

Rabu, 05 Maret 2008

Fauzi Bahar Yang Rendah Hati dan Religi

Kepemimpinan Wali Kota Fauzi Bahar memasuki babak akhir periode. Pada 18 Februari ini, Fauzi Bahar bersama Wakil Wali Kota Yusman Kasim genap empat tahun memimpin Kota Padang. Selama itu pula, Fauzi Bahar telah mewarnai ibu kota Provinsi Sumbar ini. Di antara program yang paling menonjol dalam masa kepemimpinan Fauzi Bahar adalah pendidikan keagamaan dan penerapan nilai-nilai Islam, dengan tetap menghormati dan menjaga keberagaman keyakinan di Kota Padang. Setiap pergantian tahun Hijriyah, ia meluncurkan terobosan baru. Pada 1425 Hijriyah, persis awal kepemimpinannya Fauzi memulai dengan langkah berani.

Di saat kepala daerah lain takut melarang judi toto gelap (togel), Fauzi malah tampil memberangus. Berkat dukungan semua lapisan masyarakat, ia berhasil. Tahun berikutnya 1426 Hijriyah (2005) Fauzi meluncurkan program wajib bisa baca tulis Alquran dan Pesantren Ramadhan, dan imbauan berpakaian muslim bagi anak sekolah. Di 1427 Hijriyah (2006), putra Kototangah, Padang ini mencanangkan pengoptimalan zakat untuk memberantas kemiskinan. Berikutnya, 1428 Hijriyah Fauzi mencanangkan Asmaul Husna. Terakhir, ia menggiatkan Subuh Mubarakah. Ketika berbincang dengan koran ini akhir pekan lalu, Fauzi Bahar mengaku bahwa ia memang fokus pada hal-hal yang menyangkut pondasi Sumber Daya Manusia (SDM) itu. Namun, katanya, bukan berarti ia mengabaikan program pembangunan yang lain, ekonomi, infrastruktur dan sebagainya.

"Saya sangat setuju dengan pendapat Gubernur, Pak Gamawan bahwa salah satu yang bisa dijual dari daerah ini adalah SDM-nya. Makanya SDM harus mendapat perhatian serius," kata Fauzi. Alasan berikutnya mengapa ia begitu perhatian terhadap pendidikan keagamaan dan akhlak generasi muda ini, adalah adanya konsep "Foundament-Planning-Out Put". "Orang kebanyakan memulai sesuatu dari planning (perencanaan). Jarang sekali yang memulai dari pondasi. Sebab untuk menyentuh pondasi itu memang sangat sulit karena berhubungan dengan culture, karakter, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya," ujar Fauzi. Menurut suami Mutiawati ini, selama pondasi tidak benar maka mustahil out put (hasil) akan benar. "Makanya saya memberikan perhatian pada pondasi ini. Sekarang anak-anak kita di sekolah telah terbiasa mengucapkan Asmaul Husna, bisa baca tulis Alquran, dan pakaiannya sopan. Mereka juga telah punya pengetahuan keagamaan yang kuat. Ke depan kita akan memetik hasilnya. Memang tidak langsung tampak, karena butuh waktu 15 tahun," tutur Fauzi.

Karena program penerapan nilai-nilai keagamaan begitu populer, terkesan Fauzi Bahar abai terhadap program ekonomi dan program pembangunan sektor lain. Padahal secara strategi pembangunan, pemerintahan Fauzi tetap mengutamakan peningkatan ekonomi dan pengentasan warga miskin. "Untuk memajukan sektor ekonomi, kita harus mendatangkan orang sebanyak-banyaknya ke Kota Padang. Artinya, Padang harus menjadi tujuan. Salah satu yang bisa menjadi daya tarik adalah wisata dan iven teratur. Sektor ini (wisata) jelas akan mendongkrak ekonomi," ungkap Fauzi. Dalam hal ini, Pemko Padang telah menata Pantai Padang dan objek wisata lain, serta menggelar iven tetap "Dragon Boat". Sedangkan untuk pengentasan warga miskin, Pemko Padang juga telah punya sederet program, sebut saja bantuan dana bergulir untuk UKM, gratis biaya pengobatan, gratis biaya akte kelahiran, dan pelatihan-pelatihan bagi calon tenaga kerja. Pemko Padang juga punya terobosan membantu meringankan beban warga miskin ini, yakni zakat. Sejauh ini telah lebih dari Rp2,5 miliar disalurkan ke warga yang kurang beruntung tersebut. "Cuma semua memang belum cukup untuk mengatasi persoalan ekonomi dan kemiskinan yang membelit warga ini. Butuh program terus-menerus dan simultan," tandas Fauzi.

Di balik semua itu, sebenarnya Fauzi punya rencana besar untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Di antaranya adalah rencana pembangunan Padang Bay City, pengembangan kawasan industri di Pelabuhan Teluk Bayur, terowongan Pegambiran-Bungus, pengembangan wisata terpadu Pantai Padang-Pantai Air Manis, dan industri perikanan. Sejauh ini rencana besar tersebut telah mendapat perhatian dari investor.
"Kita butuh dukungan dari masyarakat. Daerah ini perlu investasi besar untuk melakukan lompatan ekonomi," tukasnya. Sekarang hanya tinggal waktu yang tak sampai satu tahun, bagi Fauzi Bahar untuk menyempurnakan semua yang tertinggal. Ia dituntut berlari lebih kencang. Meski begitu, selama memimpin ia telah banyak menorehkan prestasi. Lebih dari 30 penghargaan dan anugerah internasional, nasional, dan lokal salah satu garansinya. "Alhamdulillah, berkat dukungan semua lapisan masyarakat kita bisa meraih yang terbaik. Saya tak akan bisa melakukan apa-apa tanpa dukungan itu, tanpa kebersamaan kita. Semuanya adalah milik dan untuk masyarakat Kota Padang."

Ketua PWI Sumbar Bangga Punya Walikota Fauzi Bahar

Hari Kamis itu, (13/9/2007) warga kota Padang telah mempersiapkan diri untuk memasuki bulan suci Ramadhan 1248 H. Malahan diantara warga masih ada yang melaksanakan balimau untuk membersihkan diri. Hawa bulan puasa telah terasa dengan harum. Warga juga disibukkan dengan mengunjungi keluarga untuk saling bermaafan, supaya dapat menjalan ibadah puasa dengan khusuk. Namun Kamis setelah sholat ashar, bumi kota Padang diguncang gempa bumi berkekuatan 6.3 Skala Rickter, warga berhamburan menyelamatkan diri.

Diantara warga banyak juga yang langsung lari bersama keluarga ke daerah Bypass, Lubuak Minturun, Aie Dingin untuk menyelamatkan diri. Karena kawan tersebut dianggap aman untuk menyelamatkan diri. Sebahagian juga banyak yang bertahan di lingkungan perumahannya. Setelah itu, warga sibuk mencari informasi tentang gempa, semuanya berupaya menghidupkan telepon selular, tapi sinyal tak ada lagi.


Tak lama kemudian muncul issue, bahwa gempa yang mengguncang Padang sangat berpotensi terjadi tsunami. Sejalan dengan itu, ada pula warga yang melihat langsung di Metro TV, Running Teks dan lain sebagainya. Akibatnya, warga menjadi resah, senja mulai menyelimuti dengan kelam. Listrik mati seperti di Perumahan Bungo Bumi Indah (BBI) Rt 04, Rw 01, Rawang Panjang, Kelurahan Bungo Pasang, Koto Tangah.


Warga BBI melaksanakan sholat berjemaah gelap gelapan di Muhalla Al-Kautsar. Setelah itu, diantara mencoba menghidupkan Radio, rupanya langsung terdengar suara Walikota Padang Drs. H. Fauzi Bahar, Msi memberikan informasi untuk warga. “ Hallo warga Kota Padang Saya Walikota Padang Fauzi Bahar supaya tetap tenang, gempa yang terjadi barusan tidak berpotensi tsunami. Pusat gempa di Bengkulu, disebelah Enggano,” tutur Fauzi Bahar.


Kepada warga tetaplah tenang, sambil berdoa dan berzikir. “Saya korbankan Tarwih pada malam pertama ini, saya tetap standby di RRI untuk memberikan informasi untuk warga. Dengarkan terus, “ perintah Wako Padang. Ternyata gempa susulan memang sering terjadi. Warga Kota Padang kebanyakan memutuskan untuk tidak tidur di dalam rumah bersama keluarga, menggelar tikar di depan rumah dan lain sebagainya.


Malam Kamis itu, seluruh warga tetap berjaga-jaga untuk mengantisipasi jika terjadi lagi gempa. Saking lelahnya, setelah sholat subuh, mencoba tidur. Rupanya baru tidur gempa mengguncang lagi. Ada yang pontang panting lari, sebahagian bertahan di lingkungan rumahnya. Sejalan dengan itu, kawasan Bypass dan Lubuk Minturun, serta Anak Aie jadi ramai, untuk menyelamatkan diri.


Walikota Padang memang standby di RRI, untuk itu Ketua PWI Sumbar Ir. Basril Basyar (BB) dan Ketua KNPI Sumbar mendatangi RRI Jumat dini hari untuk mengucapkan terima kasih dan bangga terhadap Walikota Padang Drs. H. Fauzi Bahar, MSi yang selalu standby di RRI untuk mengamankan warga Kota Padang. Sehingga upaya yang dilakukan Walikota Padang cukup memberikan ketentraman bagi warga.


Malahan pengurus masjid dan mushlalla di kota tercinta ini, menyambungkan siaran langsung Walikota Padang melalui pengeras suara masjid dan mushalla. Tujuannya supaya seluruh warga mendengarkan suara Walikota Fauzi Bahar. Pertanyaan warga langsung dijawab dengan tegas oleh Walikota Padang. Termasuk berbagai issue yang ditanyakan warga. Wako malah menjelaskan, semua itu bohong.

SANG IDOLA

Di bawah kepemimpinannya, wajah Padang banyak berubah. Judi diberantas, jilbab diwajibkan, dan Asma’ul Husna dilantunkan setiap hari. Setiap gebrakannya dimulai pada 1 Muharram.

Pemandangan tak biasa itu terjadi di sebuah masjid di sudut Jakarta. Persis di depan mimbar, seorang pria berbalut baju safari hitam duduk bersila. Kepalanya tertunduk, mulutnya bergerak, seperti melafadzkan sesuatu. Tak lama kemudian, kumandang azan Maghrib terdengar. Selesai azan, ia segera berdiri, diikuti sekitar 20 orang yang bergerak maju mengisi barisan solat terdepan. Seperti dikomando, beberapa orang mempersilakan pria berbadan tegap tersebut memimpin solat.

Sang imam bukan orang sembarangan. Ia adalah Wali Kota Padang Drs Fauzi Bahar, M.Si. Tak banyak pejabat negara seperti Fauzi, yang mau menunggu datangnya waktu solat dengan duduk di masjid.

Kelahiran Padang, 16 Agustus 1962 itu dikenal sebagai pemimpin religius. Sejak terpilih menjadi Wali Kota pada 2003, ia melakukan berbagai gebrakan bernuansa agama dan moral. Dan Fauzi selalu menjadikan 1 Muharram sebagai momentumnya.

Pada 2004, mantan anggota Pasukan Katak TNI AL itu, meluncurkan program pemberantasan judi, bertepatan dengan1 Muharram 1425 H. Fauzi prihatin dengan praktek perjudian yang sudah menyebar luas di masyarakat. “Padahal Padang dikenal sebagai kota yang kuat Islamnya,” kata Fauzi, gusar. Ia kemudian memberantas kegiatan haram itu, tanpa pandang bulu. Hasilnya memuaskan. Omset judi yang bisa mencapai Rp 80 milyar setahun, turun drastis sejak Pemerintah Kota Padang memberangusnya. “Saya akan terus memberantas judi sampai ke akar-akarnya,” tekad Fauzi.

Tahun 2005, Pemkot Padang mewajibkan pelajar sekolah dasar hingga SMU mengenakan pakaian muslim. Para siswi memakai rok panjang, baju lengan panjang, serta berjilbab untuk menutupi kepala. Sementara para siswa mengenakan baju dan celana panjang.

Kewajiban mengenakan pakaian muslim itu berdasarkan Instruksi Wali Kota Padang Nomor 451.411 Tahun 2005. Instruksi itu merupakan terjemahan dari Perda Anti-Maksiat yang telah disahkan oleh DPRD dan Pemerintah Kota Padang. Fauzi mencanangkan program itu tepat pada 1 Muharram 1426 H.

Kewajiban memakai pakaian muslim di sekolah memiliki dampak positif. “Kalau untuk kota Padang, saya jamin banyak positifnya daripada negatifnya, karena sesuai budaya kami,” ujar pensiunan Letkol Laut itu.

Masih menurut Fauzi Bahar, pakaian muslim yang serba panjang bukan hanya untuk menjalankan syariat Islam, melainkan juga sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit menular. Pakaian muslim dapat mencegah penularan penyakit demam berdarah di kalangan pelajar.

Logikanya begini: nyamuk aedes aeghepty, yang menularkan demam ber­darah, menggigit dari jam tujuh pagi hing­ga jam lima sore. Pada jam-jam tersebut, para siswa sedang konsentrasi bersekolah. “Mereka lupa kalau kaki, lengan, atau leher mereka digigit nyamuk,” kata Fau­zi. Ketika semua anak memakai baju dan celana panjang serta jilbab, tiada lagi tempat untuk digigit nyamuk.” Sehingga, busana muslim memproteksi anak kita dari gigitan nyamuk,” tambah Fauzi.

Setahun berselang, Fauzi menyanangkan Pesantren Ramadhan setiap Bulan Suci tiba, tepat pada 1 Muharram 1427 H. Ia juga menggairahkan Didikan Subuh dan Wirid Remaja di kalangan siswa sekolah dasar hingga menengah atas. Jadi, sudah bukan hal asing lagi bagi para siswa untuk bangun pagi-pagi melaksanakan solat subuh berjamaah diteruskan dengan tadarus Al-Qur’an atau tausiyah keagamaan, setiap pekannya.

Pada 2007, ia menggerakkan warganya untuk menghapal Asma’ul Husna. Lagi-lagi, untuk itu, ia menggunakan momentum 1 Muharram. Pada tahun itu juga, diadakan acara kolosal: lomba menghapal Asma’ul Husna. Diikuti 10.000 orang dan berhadiah sebuah mobil. Kini, kumandang Asma’ul Husna tak lagi asing di telinga masyarakat Padang. “Tiga dari lima orang Padang pasti hapal,” ujar lulusan S1 IKIP Padang, 1986, itu.

Asmaul Husna juga berkumandang di acara-acara resmi. Sebut misalnya saat diselenggarakannya Kongres Zakat Asia Tenggara II yang dibuka secara resmi oleh Menko Kesra Bachtiar Chamsyah. Di Alun-alun Imam Bonjol Padang 30 Oktober lalu, ribuan penghapal Asmaul Husna yang terdiri dari kaum ibu, kaum bapak serta anak-anak, melantunkannya dengan fasih.

Tak hanya itu, penerima penghargaan Kepemudaan PBB dari Asia Tenggara 2005 itu pun menggerakkan warga Padang untuk membayar zakat. Ketika baru menjabat, dana zakat yang berhasil dihimpunnya hanya Rp 72 juta. Setelah digerakkan dengan melibatkan ulama, pencapaian dana zakat melonjak tajam hingga 1.400 persen alias terkumpul dana Rp 1 milyar. ‘’Alhamdulillah, tahun 2007 ini dana zakat yang bisa dihimpun mencapai Rp 2 milyar,’’ ungkap Fauzi.

Meningkatkan kualitas beragama memang menjadi salah satu programnya. Ia beranggapan, pembangunan rohani tak kalah penting dengan pembangunan fisik. “Saya yakin, nilai-nilai agama yang kuat akan membuat kita sejahtera,” ujarnya. Ia menyontohkan zakat, yang jika bisa mengumpulkan dana besar, ”Dapat membawa kemaslahatan masyarakat, terutama kaum dhuafa.”

Fauzi mengaku terjun langsung hingga ke lapisan bawah. ‘’Istilahnya, kita ini sedang memandikan kuda, jadi harus turun dan ikut basah. Artinya, kita harus berbasah-basah bersama kuda. Bukan seperti memandikan monyet. Monyet disuruh nyebur ke kolam, talinya yang kita kendalikan,” katanya, sedikit bertamsil.

Bila prinsip memandikan kuda itu dilakukan dengan baik, maka tak ada istilah “pemimpin untung rakyat buntung.” “Mereka sama-sama berjuang untuk kemaslahatan bersama,” ujar Fauzi dengan semangat